Timika, mimbarpapua.com – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mimika menunjukkan perkembangan yang signifikan setelah satu tahun berjalan. Hal ini disampaikan Koordinator Regional MBG Provinsi Papua Tengah, Nalensius Situmorang, saat ditemui wartawan di Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, Kamis (12/02/2026).
Pernyataan tersebut disampaikannya usai mengikuti rapat koordinasi bersama Satuan Tugas (Satgas) MBG dan Wakil Bupati Mimika selaku Ketua Satgas.
Dari hasil rapat tersebut, Nalensius menilai program MBG di Mimika berjalan cukup baik dan memberikan dampak positif bagi masyarakat, seiring semakin jelasnya peran Satgas dalam mendukung kelancaran pelaksanaan program.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Setelah satu tahun berjalan, ini perkembangan yang cukup signifikan. Kabupaten Mimika mulai berjalan pada 28 Juli, dan sampai saat ini sudah terbentuk 18 SPPG,” ujar Nalensius.
Ia menjelaskan, jumlah penerima manfaat MBG di Mimika saat ini telah mencapai lebih dari 30 ribu peserta didik. Sementara untuk kategori non-peserta didik seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, jumlah penerima masih berada di kisaran seribuan.
Untuk sebaran penerima di satuan pendidikan, Nalensius mengungkapkan bahwa program MBG baru menjangkau empat distrik, yakni Mimika Baru, Wania, Kuala Kencana, dan Mimika Timur. Sedangkan 14 distrik lainnya masih belum terlayani.
“Baru di empat distrik itu yang tersebar. Makanya dari hasil rapat koordinasi, kita dorong percepatan pembentukan SPPG di wilayah terpencil agar wilayah pinggiran dan pedalaman juga segera mendapatkan MBG, bukan hanya wilayah perkotaan,” jelasnya.
Ia menambahkan, mekanisme pelaksanaan MBG di wilayah aglomerasi atau perkotaan berbeda dengan wilayah terpencil. Untuk daerah pedalaman, pengajuan dan usulan dilakukan melalui Satgas dengan melibatkan investor lokal serta yayasan-yayasan lokal sebagai pengelola.
Terkait masih adanya sekolah di empat distrik yang belum mendapatkan MBG, Nalensius mengakui hal tersebut disebabkan keterbatasan jumlah SPPG yang ada saat ini.
“Jumlah dapur atau SPPG di sini baru 18 unit. Satu dapur hanya mencakup sekitar 2.500 sampai 3.000 penerima. Karena jumlahnya masih terbatas, belum semua sekolah bisa terlayani,” katanya.
Ke depan, pihaknya bersama Satgas MBG akan melakukan evaluasi serta peninjauan kebutuhan penambahan SPPG di Kabupaten Mimika guna memperluas jangkauan layanan.
Menjelang bulan puasa, Nalensius memastikan bahwa program MBG tetap berjalan. Meski surat edaran resmi belum diterbitkan dan masih menunggu petunjuk lebih lanjut, ia menegaskan bahwa para siswa tetap akan menerima layanan MBG.
“Pada intinya, sekolah tetap berjalan dan siswa-siswa tetap mendapatkan MBG,” tegasnya.
Selain itu, ia menambahkan bahwa pelaksanaan MBG mengacu pada petunjuk teknis yang mewajibkan pelibatan pangan lokal. Ketentuan tersebut telah direalisasikan, di antaranya melalui penggunaan ubi dan papeda dalam operasional perdana program pada 8 Januari lalu.
“Dalam juknis sudah jelas kita libatkan pangan lokal. Itu sudah kami realisasikan,” pungkas Nalensius. (anto)














