Timika, mimbarpapua.com — Asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayahi diperkirakan belum akan cepat berakhir. Kondisi tersebut tak lepas dari fenomena El Nino yang diprediksi masih memberikan pengaruh hingga awal 2027.
Minimnya curah hujan di tengah kondisi kering membuat potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap tinggi. Bahkan, tanpa penanganan terhadap titik api, sumber asap dikhawatirkan terus bertahan dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Forecaster BMKG Mimika, William Titahena, mengatakan belum dapat memastikan kapan kabut asap akan benar-benar berakhir. Menurutnya, perkembangan El Nino menjadi salah satu indikator penting dalam memantau peluang perubahan cuaca dan peningkatan curah hujan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau ditanya kapan asap ini bisa selesai, mungkin kita tidak bisa menjawab langsung kapan asap selesai. Tapi kita berpatokan terhadap El Niño tersebut,” kata William, Rabu (26/8/2026).
Ia menjelaskan, kondisi kering dengan hujan yang minim membuat api lebih sulit dipadamkan secara alami. Karena itu, tindakan langsung terhadap sumber kebakaran menjadi kunci untuk menghentikan produksi asap.
“Kalau dari pemerintah ada tindak lanjut untuk memadamkan api tersebut, maka asap pun akan berakhir. Karena hujannya minim,” ujarnya.
William memperkirakan, apabila pengaruh El Nino mulai melemah pada akhir 2026 hingga awal 2027, kondisi asap juga berpeluang membaik pada periode tersebut. Namun, hal itu sangat bergantung pada ada tidaknya titik api yang masih aktif.
Dampak asap tak hanya dirasakan masyarakat di darat. Kondisi udara yang pekat juga dapat memengaruhi aktivitas penerbangan karena menurunkan jarak pandang atau visibility.
William mengatakan, asap dengan konsentrasi tinggi dapat membuat jarak pandang turun secara signifikan sehingga berpotensi menghambat proses pendaratan pesawat.
“Dengan kondisi cuaca berasap seperti ini otomatis visibility berkurang. Dari visibility berkurang itu mengakibatkan terganggunya take-off, landing, bukan take-off, landing saja. Terganggunya landing daripada maskapai penerbangan,” jelasnya.
Dalam kondisi normal, jarak pandang untuk mendukung operasional penerbangan umumnya berada di atas 5 kilometer, bahkan dapat mencapai 6 hingga 10 kilometer. Namun ketika asap menurunkan visibility menjadi 5 kilometer, 3 kilometer, hingga sekitar 1 kilometer, kondisi tersebut mulai menjadi perhatian serius bagi penerbangan.
Situasi ini membuat pemantauan cuaca dan visibility menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan serta kelancaran operasional penerbangan di Mimika.
Oleh karena itu selama kondisi kering masih berlangsung, potensi karhutla harus menjadi perhatian bersama. Kecepatan dalam menemukan dan menangani titik api dinilai sangat menentukan agar asap tidak semakin meluas.
Jika titik api tidak segera ditangani, asap bukan hanya menjadi persoalan kualitas udara, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat hingga transportasi udara.(*)














