Timika, mimbarpapua.com – Pastor Bernardus Bofitwos Baru, OSA akhirnya resmi memegang kemudi Keuskupan Timika setelah 5 tahun lamanya ditinggalkan Mendiang Mgr. John Philip Saklil.
Dalam sambutan perdananya, Pastor Bernardus menyampaikan terima kasih kepada Tuhan serta doa-doa dan air mata dari seluruh umat di tanah Papua setelah lima tahun keuskupan Timika tidak memiliki pemimpin.
Pastor Bernardus dalam kesempatan itu menyampaikan tiga permintaan kepada para Pastor. Biarawan, Biarawati dan para umat Katolik yang ada di Kabupaten Mimika.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang pertama, ia mengharapkan seluruh pihak yang disebutkan di atas agar mengedepankan sikap untuk saling mendengarkan.
Yang kedua, mengedepankan sikap untuk saling mengembangkan dialog dan komunikasi. Dan yang ketiga adalah sikap untuk saling membantu dan saling bekerja sama.
Sebab, menjalankan tugas sebagai seorang Uskup menurut Pastor Bernardus dirinya tak dapat berjalan sendiri dan butuh dukungan serta kerja sama.
“Sebagai uskup tidak menjalankan tugas sendirian, (tetapi) bersama-sama untuk saling mendengarkan, saling mendukung dan saling membantu untuk memajukan Keuskupan Timika yang kita cintai ini,” ungkap Pastor Bernardus dalam sambutan perdananya di Gereja Katedral Tiga Raja, Sabtu 8 Maret 2025 malam.
Dalam kesempatan tersebut juga, Pastor Bernardus pun kembali merefleksikan pengalaman Santa Agustinus tentang pengalamannya ketika dipilih oleh umat untuk menjadi Uskup di salahsatu keuskupan di Afrika Utara pada tahun 354.
Ketika dipilih, dalam hati kecilnya Agustinus sangat merasa sedih dan menangis karena sejatinya ia ingin menolak untuk menjadi Uskup.
Sebab menurutnya, menjadi Uskup merupakan tugas yang berat, dan mendapatkan tantangan. Agustinus yang awalnya mencari keselamatan di tempat yang terendah, harus menghadapi resiko menduduki jabatan tinggi karena akan tergoda oleh kesombongan, pujian dan lainnya.
Agustinus lebih suka menjadi seorang Biarawan, hidup dalam kontemplasi, mencari Tuhan dalam keheningan dan studi kitab suci.
Namun ia tak bisa menolak karena Sang Gembala Agung-lah yang memilihnya untuk menggembalakan gerejanya.
“Perasaan Agustinus sama dengan saya juga, saya sebenarnya tidak punya cita-cita, tidak punya keinginan untuk menjadi uskup, saya mau jadi seorang Agustinian, saya seorang Biarawan, saya mau hidup dalam kontemplasi, mencari Tuhan dalam doa dan keheningan, tetapi Gereja (di) Papua membutuhkan (saya), Yesus Gembala Agung membutuhkan itu,” ungkap Pastor Bernardus.
Pastor Bernardus pun menyampaikan bahwa karena ini merupakan pilihan Kristus Sang Gembala Agung, maka ia pun siap untuk menerimanya. (Moh).









