Perang Kwamki Narama Berkepanjangan, Tokoh: Saatnya Kita Kubur Konflik

- Admin

Jumat, 4 September 2026 - 19:57 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Para tokoh saat memberikan keterangan. 

Para tokoh saat memberikan keterangan. 

Timika, mimbarpapua.com — Konflik antarkelompok yang terjadi di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, hingga kini masih menjadi perhatian serius. Pertikaian yang telah berlangsung lebih dari satu tahun dinilai telah membawa dampak besar terhadap kehidupan masyarakat.

Aktivitas pendidikan, pelayanan gereja, pemerintahan, pertanian, hingga kegiatan sehari-hari warga ikut terganggu akibat situasi yang belum sepenuhnya aman.

Di tengah kondisi tersebut, suara untuk mengakhiri perang melalui jalan perdamaian kembali disampaikan sejumlah tokoh. Mereka berharap kedua kelompok yang bertikai dapat menurunkan ego, menerima situasi yang ada, dan bersama-sama mengakhiri konflik.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tokoh perang dari kelompok Newegalen, Nerius Newegalen, yang merupakan Waimum atau Kepala Perang, mengajak kelompok Dang untuk mengambil langkah bersama menuju perdamaian.

Nerius mengatakan pihaknya telah menerima dua pelajar yang menjadi korban pembunuhan dari kelompok Dang sebagai korban dari pihaknya. Pihaknya juga menerima keputusan keluarga korban yang memilih proses pemakaman, bukan kremasi sebagaimana adat.

“Sebagai Waimum kami sudah terima, dikubur atau dibakar itu sama saja. Kami ikut mau keluarga. Tujuan mereka kubur itu karena keluarga mau supaya perang ini aman selesai,” kata Nerius kepada wartawan di kawasan SP3, Mimika, Jumat (4/9/2026).

Menurut Nerius, penerimaan terhadap kedua korban tersebut seharusnya dapat menjadi langkah awal bagi kedua pihak untuk menghentikan siklus konflik.

Ia berharap kelompok Dang juga dapat menerima dan mengambil sikap yang sama sehingga tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan perang.

“Kami mau melalui ini, dari pihak Dang harus terima kedua korban ini. Kan sesuai tujuan mereka melampiaskan dengan membunuh dua saudara kami itu,” ujarnya.

Nerius menegaskan, konflik yang telah berlangsung lebih dari satu tahun tidak boleh terus dibiarkan. Kedua kelompok harus memiliki kesepakatan dan kemauan yang sama untuk mengakhirinya.

“Sehingga itu mereka harus terima dan harus samakan, sama-sama. Perang ini kita mau kubur. Kita mau perang ini harus damai, sudah satu tahun lebih,” tegasnya.

Ia mengatakan, penghentian perang akan menjadi awal bagi masyarakat untuk kembali menjalani kehidupan secara normal.

Anak-anak diharapkan dapat kembali bersekolah dengan aman, pelayanan gereja kembali berjalan, pegawai dapat menjalankan tugas, petani kembali ke kebun, dan masyarakat dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa rasa takut.

“Yang kita mau itu masyarakat bisa kembali hidup normal. Anak-anak sekolah, gereja melayani, pegawai bekerja, petani ke kebun. Semua bisa beraktivitas dengan aman,” harapnya.

Untuk memastikan proses perdamaian berjalan baik, Nerius meminta keterlibatan seluruh pihak, termasuk TNI-Polri, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Pemerintah Kabupaten Puncak, serta Pemerintah Kabupaten Mimika.

Seruan perdamaian juga disampaikan tokoh masyarakat Yan Tinal. Ia meminta seluruh pihak yang berselisih untuk meninggalkan perpecahan dan mulai membangun kembali persatuan.

Menurut Yan, dukungan masyarakat terhadap aparat keamanan juga diperlukan untuk membantu menjaga situasi tetap aman selama proses penyelesaian konflik berlangsung.

Ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas tanpa dibayangi ketakutan.

“Hal ini penting agar seluruh lapisan masyarakat mulai dari anak sekolah, pelayanan gereja, petani, pegawai, hingga pemerintahan dapat kembali menjalankan aktivitasnya dengan aman dan tenang tanpa rasa takut,” ungkapnya.

Sementara itu, tokoh agama Pendeta Anton Uamang mengajak seluruh tokoh agama dan gereja di Mimika ikut terlibat dalam proses perdamaian Kwamki Narama.

Menurutnya, gereja tidak boleh menjauh dari jemaat yang sedang menghadapi persoalan. Gereja harus hadir untuk mendorong penyelesaian dan menjadi bagian dari jalan perdamaian.

“Semua tokoh gereja tolong terlibat dalam pengamanan ini. Gereja tidak boleh menghindar dari jemaat, karena jemaat kami yang sedang bertikai di lapangan perang. Sehingga kita harus di tengah-tengah dan mengambil komitmen untuk mendamaikan, supaya gereja jalan damai, aman, dan pelayanan juga aman,” kata Anton.

Suara yang datang dari tokoh perang, tokoh masyarakat, dan tokoh agama tersebut menjadi dorongan agar konflik Kwamki Narama segera dihentikan.

Bagi masyarakat, berakhirnya perang bukan hanya soal menghentikan pertikaian, tetapi juga mengembalikan kehidupan yang sempat terganggu.

Sekolah harus kembali berjalan, gereja harus kembali melayani, pemerintahan harus bekerja, petani harus kembali ke kebun, dan warga harus bisa beraktivitas tanpa rasa takut.

Kini, harapan perdamaian kembali diletakkan di tangan kedua pihak yang bertikai. Saatnya konflik dikubur dan kehidupan masyarakat Kwamki Narama kembali normal. (*)

Berita Terkait

Sambangi Warga Hangaitji, Bhabinkamtibmas Ajak Warga Bijak Bermedia Sosial Dan Jauhi Miras
Dipanah Saat Patroli, Mobil Dinas Kasat Samapta Polres Mimika Jadi Sasaran Serangan
Mobil Rental Yang Lepas Pelat Saat Dipakai Menganiaya EH Ditemukan Polisi Di Timika
Nasib Perempuan Yang Disebut Dibawa Paksa Dari Jila Dipertanyakan Keluarga
Bawa Busur, Panah Hingga Parang, 9 Orang Diamankan Dalam Razia Gabungan Di Kwamki Narama
Aparat Gabungan Turun Ke Kwamki Narama, Alat Tajam Jadi Sasaran Sweeping
Patroli Di Kwamki Narama, Polisi Amankan 11 Busur, 115 Anak Panah, Parang Dan Senapan Angin
Konvoi Kendaraan Karyawan Freeport Ditembak Di Mile 60 

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 19:57 WIT

Perang Kwamki Narama Berkepanjangan, Tokoh: Saatnya Kita Kubur Konflik

Jumat, 4 September 2026 - 14:43 WIT

Sambangi Warga Hangaitji, Bhabinkamtibmas Ajak Warga Bijak Bermedia Sosial Dan Jauhi Miras

Jumat, 4 September 2026 - 14:39 WIT

Dipanah Saat Patroli, Mobil Dinas Kasat Samapta Polres Mimika Jadi Sasaran Serangan

Kamis, 3 September 2026 - 14:22 WIT

Mobil Rental Yang Lepas Pelat Saat Dipakai Menganiaya EH Ditemukan Polisi Di Timika

Kamis, 3 September 2026 - 14:18 WIT

Nasib Perempuan Yang Disebut Dibawa Paksa Dari Jila Dipertanyakan Keluarga

Rabu, 2 September 2026 - 19:02 WIT

Aparat Gabungan Turun Ke Kwamki Narama, Alat Tajam Jadi Sasaran Sweeping

Rabu, 2 September 2026 - 18:58 WIT

Patroli Di Kwamki Narama, Polisi Amankan 11 Busur, 115 Anak Panah, Parang Dan Senapan Angin

Rabu, 2 September 2026 - 18:16 WIT

Konvoi Kendaraan Karyawan Freeport Ditembak Di Mile 60 

Berita Terbaru