Berita  

Peletakan Batu Pertama Pembangunan Rumah Transit Pendidikan Yau Ma’o Bagi Anak Kamoro

Timika, mimbarpapua.com – Dr. Leo Tumuka, melakukan Peletakan batu pertama pembangunan rumah transit pendidikan Yau Ma”o bagi anak-anak Kamoro yang berlokasi di Gorong-gorong Kelurahan Kebun Siri, Senin (4/3/2024).

Pembangunan rumah transit ini disponsori oleh PT Orica dan didukung oleh PT Freeport Indonesia. Rumah transit ini dibangun dengan konstruksi kayu serta material pembangunannya sudah siap di lokasi pembangunan. Pembangunan rumah transit ini digagas oleh putra Kamoro Dr Leo Tumuka.

Peletakan batu diawali dengan acara seremoni, ritual adat, pemberkatan batu dan lokasi pembangunan kemudian peletakan batu.

Penggagas pembangunan rumah transit pendidikan Dr Leo Tumuka dalam sambutannya mengatakan rumah transit sangat penting karena saat orang tua pergi cari makanan di tanggul barat atau di pantai akan-anak mereka titipkan di rumah transit supaya mereka tetap sekolah. Rumah transit siapkan makan pagi, siang dan sore sebelum kembali ke rumah bersama orang tua.

Rumah transit akan di kelola oleh Yayasan Pelita Harapan Kamoro. Direktur yayasan masih di Semarang dan dalam waktu dekat akan ke Timika. Sekretaris yayasan ada sehingga bisa jalankan kegiatan rumah transit ini.

Manajemen Orica Blasting Supervisor dan juga Donatur YPHK Mrs Travor Darby saat menyampaikan, gembira dalam mengelola pekerjaan ini untuk menyiapkan generasi penerus Kamoro. PT Orica dan teman-teman manajemen senang dengan pekerjaan ini sehingga anak-anak bisa tinggal sementara waktu di rumah transit ini setelah sore baru kembali ke rumah orang tua mereka. Orica dukung penuh pembangunan rumah transit ini untuk menyiapkan SDM anak Kamoro.

Sementara Tecnical Expert Comunity Affairs PTFI, Stephen Lorenson mewakili manajemen PTFI menuturkan diskusi ide pembangunan rumah transit ini sejak dua tahun lalu bersama Dr Leo.

Dari diskusi itu sekarang hasilnya, pembangunan rumah transit buat anak-anak yang kedua orang tuannya pergi mencari nafkah di pantai atau di mangi-mangi.

Bagi masyarakat Kamoro kalau mencari dan membawa keluarga itu budaya yang telah tertanam lama. Ini pilot proyek yang pertama sehingga anak-anak pagi datang makan pagi baru ke sekolah. Pulang sekolah juga mereka singgah makan siang di rumah transit dan sore sebelum.pulang ke rumah mereka makan lagi.

Makan dengan diatur menunya sehingga gizi dan protein diatur sehingga membuat anak sehat dan terus melanjutkan pendidikan mereka. PTFI kata dia mendukung penuh program ini dalam menyiapkan kader Kamoro yang berkualitas ke depan.

Dia menjelaskan kalau tidak cari nafkah di pantai atau mangi-mangi itu bukan orang Kamoro. Jika ini sudah jalan mungkin gereja datang memberi penguatan dari sisi spiritual, karakter, iman, keamanan datang membuat pelatihan-pelatihan bagi anak-anak. Lebih-lebih tokoh-tokoh harus mendukung program ini. Bila sudah jalan bisa saja akan ada di kampung lain juga. (Mar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *