Berita  

SPKT Polres Mimika Fasilitasi Tuntutan Ganti Rugi Tanaman Warga Diatas Lahan Masyarakat Nawaripi

Timika, mimbarpapua.com – SPKT Polres Mimika pada Kamis (12/10/2023) memfasilitasi pertemuan tuntutan ganti rugi tanaman akibat pekerjaan normalisasi sungai diatas lahan milik masyarakat adat Nawaripi.

Masyarakat Wonosarijaya dan Mawokaujaya yang beberapa bulan belakangan inin mengolah lahan dipinggir jalan menuju Mile 21 merasa para pekerja telah merusak tanaman mereka. Sejak pekerjaan proyek normalisasi sungai ini pihak perusahaan tidak memberitahu mereka supaya mereka memanen tanaman yang sudah layak dipanen.

Karena alasan pengrusakan tanaman itu, warga meminta dan menuntut ganti rugi. Awalnya pada Selasa lalu saat negosiasi Ibu-ibu meminta ganti rugi tanaman mereka senilai Rp 100 juta. Kemudian hari kedua ada beberapa pihak datang minta ganti rugi Rp 50 juta.

Hari kedua timbullah perselisihan antara kedua belah pihak hingga polisi memfasilitasi penyelesaian di ruang SPKT Polres Mimika.

Pertemuan di pimpin salah satu polisi senior Frengky Singal mengorek keterangan dari kedua belah pihak soal tuntutan ganti rugi dan terjadinya perselisihan antara kedua belah pihak.

Bagi Frangky permintaan ganti rugi sebesar Rp100 juta sangat tidak masuk akal. Tidak mungkin keladi harganya hingga belasan juta, atau kacang tanah nilainya sampai jutaan rupiah. ” kita minta yang wajar-wajar dan masuk akal. Karena proyek pemerintah tidak ada amggaran untuk ganti rugi,” kata Frangky.

Dia berharap soal ganti rugi dan perselisihan yang terjadi Rabu (11/10/2023) kemarin harus selesai hari ini supaya tidak melebar kemana-mana. Pihak sebelah minta berapa, dan pihak yang satu lagi kesanggupan mereka berapa.

Setelah kedua belah pihak sepakat angkanya baru pihaknya lanjut dengan penandatanganan kesepakatan bersama yang isinya setelah pembayaran masalah selesai dan kontraaktor bisa lanjutkan pekerjaan.

Pihak kontraktor Egi Yamko mengakui ini kesalahan mereka karena awal masuk tidak minta ijin dulu ke Bapa Mama yang punya tanaman sepanjang jalan Mile 21 ini.

” minta maaf karena yang turun kerja ini ade-ade, mungkin saja mereka tidak berpikir tanaman ini milik siapa. Karena kami sudah buat rusak maka kami akan bayar ganti rugi,” kata dia.

Soal ganti rugi dia mengutarakan sesuai kesanggupan perusahaannya memberikan Rp 20 juta. Sebab dalam pengerjaan proyek ini pihaknya menunggu pencairan dari pemerintah. Pencairan boleh dilakukan jika pekerjaan sudah selesai. Kesanggupan perusahaannya seperti itu dan setelah dana cair pihaknya tambah Rp 5.juta jadi totalnya Rp 25 juta.

” sekarang kami bayar Rp 20 juta, setelah uang cair kami tambah lagi Rp 5 juta. Itu bapak dan ibu kalau kami bayar hari ini kami langsung star kerja supaya cepat selesai,” terang dia. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *